ALIEN among ALIENS

an alone alien in somewhere land where another aliens gather around and i dont know what are they talkin about because i am different and so they are

Monday, November 09, 2009

mencari kehidupan

i am now on the stage you call "labile"

"unstable".


ok, lets find out what merriam webster says about "labile".

check this out.

"
Main Entry:la-bile
Function:adjective
Etymology:French, from Middle French, prone to err, from Late Latin labilis, from Latin labi to slip — more at SLEEP
Date:1603

1 : readily or continually undergoing chemical, physical, or biological change or breakdown : UNSTABLE *a labile mineral*
2 : readily open to change

–la-bil-i-ty noun

"

got it?
am i an unstable mineral?
or i am readily open to change?

change for what?


change for a new, better life?

well, do i now have a life?


i am sorry, i know this is something you call "sampah" or "junk" or whatever you call it.




by the way, i hate those word. the word labile. the word "ampas" or "sampah". i want to go back to my OWN life, my NDESO life.



my simple life.





i am ndeso. i cant catch y'all here up, guys. i am not your gang. i am individualistic.



do you know what's the worst thing after all? i lost my idealism.

Monday, October 19, 2009

menunggu si aa'

saya menunggu lagi. tiga jam. dia tak datang. saya bete. saya kesal. saya pundung. dan ini saat besok akan ada uts; padahal dia justru akan ke sini karena saya besok uts, akan menemani saya belajar. tau gitu saya td ga ol? huhuhu. jd g ketemu dia. tapi alhamdulillah sih, gara2 dia saya mandi dan makan. kalo ga saya akan tetap bau dan lapar sampe sekarang.

Labels:

Sunday, October 04, 2009

impressed

i am a girl.

saya sadar itu hihihi. impressed of shoes bags and boys :D
*seperti tulisan di kaos-kaos cewe yang bertebaran di penjuru kota


i am a girl who is impressed by technology.

ahaha. kalo ga impressed ngapain saya masuk sistem dan teknologi informasi institut teknologi bandung.

tadi saya blogwalking *padahal harusnya belajar* dan nemu blog orang-orang
(sebenernya liat twitter temen. trus liat profile. trus masuk blognya orang)

dan saya sadar, ternyata, saya terpesona akan teknologi - pada konteks ini, gadget -, tapi lebih terpesona lagi akan cowo yg menulis soal gadget.

hehe.


i am a girl who is impressed by words.

dan saya juga terpesona oleh yang ini, atas quotesnya yang bagus-bagus.

hahaha aku suka kata-kata. permainan kata. kecerdasan orang dalam mengolah kata. ga cuma impressed, kalo words bisa bikin saya melting, seperti post di bawah saya yang tidak sendiri melainkan terpisah-jarak. ada juga dari blog yang saya link di atas:
"I miss you. No, i miss us."

melting -____-'

saya terpesona sm orang-orang (oke, cowo-cowo) yang bisa mengolah kata dengan pintar dan punya kemampuan komunikasi yg baik.


i am a girl who is impressed by leadership qualities.

sesungguhnya manusia adalah khalifah - untuk dirinya, kaumnya, dan alamnya. hehe. alam = bumi maksudnya. bukan alam yang mbah dukun :D.

dan kepemimpinan itu ya diaplikasikan :D
oooh, sumpah yaa.. kecengan2 saya mostly ada embel2 "ketua"nya. ketua W, presiden X, ketum Y, ketua dua Z, dan lain-lain haha.

dasar rosa.


udah dulu ah, sumpah ya ini aku harusnya belajar atau mandi atau beresin kamar atau pipis! hahaha

lapar tapi hujan

manja. aku manja.

dan salah satu sahabatku menasehati.

"Tia..
Hujan..
Lapar..
Sendirian..
Huhuhu"

"...
Telp delivery kl mmg malasko keluar.

Mungkin kita semua terpisah. Tapi kita tidak sendiri..."

"...
Sy menderita tp terlalu malas utk mengakhiri penderitaan.
Bodoh."

"Terus knapa kl hujan?

...

Tanggung jawab dgn dirimu.
Kl maag nanti kau yg sakit..."

aku selalu terharu..
masih ada yang mau membalas smsku dan tetap sabar saat aku manja.

aku sayang sahabat-sahabatku...

Labels:

Menghitung Laras

well kemarin saya audisi ITBChoir. hell no. kaco parah. saya ga mempersiapkan apa2, ga vocalising dulu sebelum audisi. all i did was singing This Old Man (nadanya kaya lagu Barney yg i love you you love me):

This old man, he played one,
He played knick-knack on my thumb;
*Knick-knack paddywhack,
Give a dog a bone,
This old man came rolling home.

This old man, he played two,
He played knick-knack on my shoe;
*

This old man, he played three,
He played knick-knack on my knee;
*

This old man, he played four,
He played knick-knack on my door;
*

This old man, he played five,
He played knick-knack on my hive;
*

This old man, he played six,
He played knick-knack on my sticks;
*

This old man, he played seven,
He played knick-knack up in Heaven;
*

This old man, he played eight,
He played knick-knack on my gate;
*

This old man, he played nine,
He played knick-knack on my spine;
*

This old man, he played ten,
He played knick-knack once again;
*

like that. sepuluh bait,
dan tiap bait kamu harus menaikkan nadanya satu laras :D
jadi, total, kalo kamu menyanyikan lagu itu sampai selesai, suaramu setidaknya punya range dua oktaf!!!

Karena, tiap bait rangenya dari do sampai la (sol mi sol, sol mi sol, la sol fa mi re mi fa, mi fa sol do do, do re mi fa sol, sol re re fa mi re do). hehe.
dan dari satu sampai sepuluh itu suaramu udah punya range sembilan laras. ditambah sampai la? empat setengah. empat setengah tambah sembilan? tiga belas setengah. satu oktaf berapa laras? enam laras. berarti? tiga belas setengah bagi enam? dua oktaf lebih satu setengah laras! hahahahahaha

Bingung?

oke, mungkin yang jarang menyentuh musik bingung. gampangnya gini deh. satu oktaf kan terdiri dari suatu nada sampai mencapai nada itu lagi sampai lebih tinggi. gampangnya pake C:
1 oktaf: C-D-E-F-G-A-B-C'
di mana C' adalah C tinggi. Nah, jarak antara satu nada dengan nada lain tu aku sebut laras. Kalo mo gampang, liat aja piano atau gitar. jaraknya itu ya ada engganya nada lain di antaranya.
C-1-D-1-E-1/2-F-1-G-1-A-1-B-1/2-C'
nah itu laras-nya. kalo dijumlahin kan satu oktaf, dari C-C', ada 6 laras.

CMIIW.

untuk range suara cewe, kalo mau diliat dalam konteks lagu This Old Man, dia normally akan mengambil suara rendah untuk lagu ini, jadi mungkin sekitar 'E atau 'F (satu oktaf lebih rendah dibanding E atau F). Pada saat dia nyanyiin, si E itu akan bergerak terus sembilan laras.
bait 1: 'E
bait 2: 'F# (ini maksudnya setengah laras di atas F, bacanya Fsharp/Fkres)
bait 3: 'G#
bait 4: 'A#
bait 5: C
bait 6: D
bait 7: E
bait 8: F#
bait 9: G#
bait 10: A#
like that-lah. itu buat alto (suara rendah cewe), fyi. saya ngambilnya rendah, kalo tinggi ga kuat haha.
Nah, untuk bait sepuluh, A kres atau B mol (B turun setengah), kan dihitung sampe nada la-nya:
A#-C'-D'-D'#-F'-G' (1-2-3-4-5-6)
jadi, kalo uda nyanyiin lagu ini, kamu punya range suara dari 'E sampai G'.

keren juga ya? harusnya pas tes ambitus (range suara) PSM pake lagu ini aja.

hihihi. beginilah kerjaan hari minggu seorang anak yang jadi PJ ambitus buat Program Penerimaan Paduan Suara Mahasiswa Institut Teknologi Bandung.

luv, rosa.

(kemaren audisinya kacooooo. saya ga bisa mencapai nada rendah maupun tinggi dan tekniknya parah. saya nyanyi i'll close my eyes-nya diane schuur tapi menyedihkan :|)

Labels:

Thursday, September 24, 2009

Melompat

Ini adalah post pertama identifikasi diri saya.

Beberapa minggu lalu ada testimonial teman saya, Tommy, untuk teman saya yang lain, Sari, di notes facebook. Saat itu Tommy berkata Sari penurut. Tommy menganalogikannya dengan melompat; jika Tommy meminta Sari melompat, Sari akan bertanya, "Seberapa tinggi?"

Saya teringat notes itu hari ini. Jika seseorang menyuruh saya melompat, hal yang mungkin akan saya lakukan adalah:
1. Berpikir tentang melompat; namun jika menurut saya itu sudah tidak perlu dilakukan lagi atau memang tidak perlu dilakukan, saya takkan melompat.
2. Saya akan melompat tanpa bertanya lebih jauh. Tak ada permintaan spesifikasi, interpretasi kita.
3. Melompat dengan bertanya. Contoh: ke depan? Ke belakang? Ke samping? Kaki ditekuk?
4. Melompat tanpa henti, dan pada akhir hari akan menangis karena kelelahan tanpa protes pada pemberi komando, suatu saat akan meledak.

Pemilihan satu dari empat jenis respon di atas bergantung pada beberapa faktor. Pertama, jenis permintaan atau komando. Kedua, pemberi komando. Ketiga, opsional, kondisi diri.

Sekarang saya sedang mengambil pilihan keempat untuk permintaan yang berupa negasi. Saya berpikir tentang toleransi dan membuka diri terhadap berbagai sudut pandang dan cara berpikir untuk itu, juga karakter unik masing-masing orang.


xoxo
Rosa

Labels:

Wednesday, May 20, 2009

tentang bahasa dan identitas: apalah artinya sebuah kata ganti?

Catatan ini adalah sebuah bentuk kegalauan saya atas bahasa. Seperti yang kita semua tahu, bahasa menunjukkan identitas seseorang. Saya kira tidak perlu ada elaborasi lebih lanjut untuk pernyataan ini.
Catatan ini saya dedikasikan untuk Mas Dito, Handal, Sito, dan Gilda.

Kisah saya dimulai pada Minggu, 17 Mei 2009. Sore itu, saya sedang duduk di sekre PSM-ITB, menunggu teman saya menjemput saya untuk belajar kalkulus. Sebelumnya, saya mendengarkan kakak-kakak angkatan saya membahas Program Penerimaan (PP) PSM-ITB 2009. Saat orang terakhir dari para pembahas itu, ketua PP-PSM 2009, yang juga merupakan kakak kelas saya SMA, Dito, akan menutup pintu sekre (dan mungkin juga menguncinya, padahal saya masih berada di dalam T.T). Refleks saya berkata, "Hwaa jgn kunciin guweeee!!" atau semacam itu. Dito pun berkata, "Waaah sekarang uda pake gue guee," dan saya reflaks (lagi) menjawab "Kan juga rosa di jogja cuma 3 tauun," yang mana Dito juga cuma SMA di Jogja. Hahaha.

Peristiwa itu cukup mengganggu pikiran saya saat itu. Untuk mengatasi kegalauan yang ditimbulkan, saya bermain piano dan menyanyi - padahal besoknya saya ujian kalkulus, ujian paling absurd yang me-require pesertanya menangis dahulu SEBELUM ujian (tidak seperti Dasar Rangkaian Elektrik, yang mengharuskan peserta ujian menangis SETELAH ujian). Oke, saya tidak akan membahas ujian-ujian itu di sini.

Dalam pikiran saya, saya benar-benar tak punya identitas. Sebagai seseorang yang menghabiskan masa kecilnya di berbagai kota, saya terbiasa untuk beradaptasi dan mengikuti gaya bahasa di mana saya sedang berpijak (atau gaya bahasa lingkungan saya, atau (lagi) kepada siapa saya sedang berbicara). Sedikit kenangan menyempil dalam pikiran saya, saat saya di-gap, atau di-"labrak" kakak kelas saya saat SMP karena cara bicara saya yang menurutnya (menurutnya apa ya? saya lupa. yang jelas ia tak suka. dan saya juga tak kenal sama si kakak kelas itu. sape eluuu.) ah, saya tak tahu. Yang jelas itu terjadi gara-gara saya membawa cara bicara "Jawa" ke Makassar. Gaya bicara yang berbeda dengan kebanyakan ornag di sana. Duh, teringat lagi saat saya dipanggil "Jawa" oleh teman SD saya. Apakah menjadi seorang Jawa merupakan sebuah aib? Enak kah didengar di telingamu kalo se panggilko "Bugis"??

Selama ini, saya hanya berpikir saya adalah orang Indonesia.

Mengenai kata ganti orang pertama (dan kedua, mungkin) yang menjadi inti permasalahan dalam catatan ini, saya mempunyai beberapa pandangan.
Pertama, bahwa orang memang merasa nyaman berbicara dengan bahasa yang ia pakai sehari-hari. Adanya perbedaan dapat mengusik "zona nyaman" itu dan memaksa pikiran si orang yang kenyamanannya terusik untuk, di alam bawah sadar, memberikan sebuah cap pada orang yang mengusik. Cap itu dapat berupa apa saja, yang jelas cap itu menyatakan "dunia kita gak sama".
Kedua, bahwa bahasa "gue-lo" merupakan bahasa yang menurut orang-orang melambangkan kearoganan metropolis "Jakarta", seperti yang juga terucap dalam lagu Makassar Bisa Tonji. Lirik tidak akan saya berikan di sini, anda dapat mendapatkannya di YouTube. Sekedar informasi, lagu ini menceritakan orang yang pulang ke kampungnya dengan membawa oleh-oleh logat Jakarta.

Bagaimana dengan kaitannya terhadap identitas?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tanpa sadar menilai orang dari cara ia berbicara. Contoh paling mudah ialah saya; orang yang bahasanya merendahkan dengan sangat jelas tak akan saya angkat menjadi teman dekat. Begitu pula logat; saya bisa dengan jahatnya menertawai (dalam hati) orang yang berbicara dengan logat jawa sangat medok. Memang rasis, tapi itulah dunia, Bung. Saya pribadi berharap kita semua dapat menjadi orang Indonesia yang menjunjung tinggi Bahasa Indonesia mengharapkan hal-hal kecil berbau sentimen kedaerahan dan perbedaan persepsi seperti ini tidak terjadi. Saya berharap kita semua mengakui identitas kita sebagai orang Indonesia tanpa terganjal identitas kedaerahan.

PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Maaf kalau saya ngelantur. Tetapi, saya benar-benar berharap tidak ada kesalahpahaman lagi.

---

Penulis merupakan pecinta Indonesia kelahiran ibukota yang pernah melewatkan hidupnya berbicara dengan logat Jakarta, Sorong, Makassar, dan Jawa-Yogyakarta. Sekarang penulis sedang mendengarkan dengan sepenuh hati orang-orang yang berbicara dengan logat Sunda.

Thursday, April 02, 2009

Membunuh Kebahagiaan

Teman, hari ini rosa tes lari 2,4km.

Tiga minggu lalu, saya juga lari spt itu, dan mendapat hasil 19.02 menit. Saya SANGAT tidak puas dengan hasil itu, terutama karena saya merupakan orang terakhir-terakhir yg finis dan di bawah saya org2 yg punya penyakit.
Saat itu, saya benar-benar kacrut. Berlari sampai trek tiga, lalu berjalan. Lalu berlari. Lalu berjalan. Lalu sprint. Lalu berjalan, perut kesakitan. Lalu berlari. Lalu... Ah, parah, tidak konstan.

Karena hasil saya yang parah itu (batas mengulang olahraga tahun depan 20 menit) saya ingin berlari dengan kecepatan lambat namun konstan. Saya pikir berlari seperti itu akan lebih menyenangkan dan, insya allah, lebih cepat sampai garis finis.
Saya pun memasang target: saya harus berlari dengan konstan. Tidak ada jalan, kalau bisa sprint di saat-saat terakhir, karena setelah sprint saya pasti tidak kuat dan harus berjalan.

Apa hasilnya?
Lari saya konstan dengan kecepatan rendah. Jogging tanpa berjalan. Hasilnya?
19.22 menit!!!
Wow.

Entah kenapa, saya merasa asyik-asyik saja walaupun bahkan teman-teman saya yang sakit larinya JAUH lebih cepat dari saya.

Parah.
Semakin dekat menuju E. Atau sudah E?

Aku ingin menangis.
Tapi tak bisa, karena aku bahagia: HORE, AKU BISA JOGGING TANPA BERHENTI SEPANJANG 6 PUTARAN! Itu, bagiku, merupakan sebuah prestasi tersendiri sekaligus batu loncatan; kalau aku bisa berlari dengan konstan sejauh 6 putaran, aku mungkin bisa mempercepat lariku; pada suatu saat, bila aku terus berlatih, mungkin aku akan mencapai suatu keadaan di mana aku bisa berlari, dalam arti sebenarnya, sepanjang 6 putaran.
Muncul rasa bersalah dalam hatiku. Aku terlalu permisif untuk diriku sendiri; aku tak mempunyai daya juang yang cukup tinggi. Aku terlalu cepat puas atas hasil yang kucapai, padahal aku sangat jauh tertinggal dari teman-teman yang lain, bahkan teman-teman yang mempunyai asma atau semacamnya.
Aku tak pernah berpikir, mau ditaruh di mana muka ini. Teman-teman 12 atau 16, aku 19.
Aku berusaha berpikir bahwa aku berusaha menutupi kesedihan karena kegagalanku sekarang, waktuku turun, dengan kebahagiaan bahwa aku bisa jogging tanpa berjalan. Tapi itu gagal! Karena aku benar-benar bahagia!

Saat tes pertama, aku merasa belum maksimal. Setelah lari, walaupun sempat "langsung tiduran di gravel", aku merasa masih fit, tidak seperti jaman SMA saat aku benar-benar merasa akan pingsan setelah berlari 2,4km dengan waktu 15-16 menit. Tak ada pula pegal-pegal atau keluhan setelah olahraga, karena otakku berkata aku tentunya belum memaksakan diri, bila hasil lariku dianalisis dengan logika sederhana.
TADI JUGA! Setelah lari, aku merasa masih bisa jogging beberapa putaran lagi, atau bahkan berenang.
APA YANG SALAH DENGANKU???
Sebal rasanya, sepertinya aku harus membuang kebahagiaan ini demi hasil yang lebih baik...

Tuesday, March 31, 2009

Kesadaran Citra

Saya tak tahu apakah pencitraan merupakan padanan kata yang benar. Yang jelas, pencitraan di sini saya maksudkan sebagai branding, bukan imaging.

Saya tak akan menulis artikel tentang marketing. Saya hanya akan menulis tentang pandangan saya terhadap citra suatu produk. Tepatnya, suatu merk, dan apa saja yang mungkin membuat saya menyukainya. Atau mendewakannya.

Side Story:
Tadi sore, saya makan di chicken story BIP bersama Dini, Ulil, dan Selia, teman-teman kuliah saya. Setelah saya berpisah dengan teman-teman, karena tidak mempunyai acara apa-apa hingga jam 5, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di mengelilingi mal.

ternyata sedang musim DISKON, kawan-kawan.

Saya pun berputar-putar melihat-lihat. Sesampai saya di Sport Station, saya melihat ada sepatu lucu! tapi sayang tidak diskon! Modelnya "sepatu cewek", dengan sol yg menyenangkan untuk dipakai berjalan-jalan. Sayangnya, harganya sekitar Rp 499.000,oo.

Berjalan ke belakang...
Ada sepatu PUMA dg model yg saya incar dari dulu!
Betaaapaaa senangg diriku waktu tau harga itu seat Rp 299.000,00!!!
Ahaha.. Sayapun meninggalkan toko itu, menemukan kemeja putih Mint Rp 60.000,00 di Matahari..
Singkat cerita, saya meminta izin mama untuk membeli keduanya, dan saya pun ke ATM..
Yang artinya akhirnya saya membelinya. Hohoho...
I don't know, but i thought that Puma is cool..

Jadi, intinya apa? hahaha.
Intinya adalah mengapa saya menganggap suatu merk cool. Itu sama saja dengan mengapa saya menganggap suatu merk "asli cepat rusak", ataupun "elegan". Itu pencitraan, kawan. Pencitraan itu pulalah, yang bila berhasil, dapat membuat produsen (yang adalah pemegang hak cipta merk) dapat seenaknya menentukan harga. Pencitraan pulalah yang membuat orang dapat bangga bila memakai sebuah, atau beberapa produk bermerk.

Karena saya menulis dari sudut pandang konsumen, saya tidak menyebutnya branding. Saya menyebutnya brand awareness, kesadaran citra.

Quote dr wikipedia:
brand awareness is a marketing concept that refers to a consumer knowing of a brand's existence; at aggregate (brand) level it refers to the proportion of consumers who know of the brand.

Secara subjektif dan dari analisis saya, terbentuknya opini konsumen terhadap suatu produk dapat berasal dari
1. Media massa
    Saya ingat betul, saya pernah membaca artikel di media massa (saya lupa tepatnya, tapi paling mungkin Kompas/Tempo, karena saya dahulu setia membaca mereka) tentang branding. Saat itu, mereka menulis tentang barang merk X yang sempat jatuh, kemudian melakukan rebranding, hingga anak muda menganggap produk merk X keren. Sungguh sangat keren (oiya, catat, saya memandang keren karena upaya mereka melakukan rebranding, bukan karena opini punlik sekarang, karena toh saat itu saya masih kecil dan tidak tahu apa-apa tentang merk X), hohoho. Saya suka membaca artikel media massa karena sifatnya yang seharusnya tidak memihak dan memandang suatu masalah secara objektif (yaelah, pengulangan klausa -.-'). Jadi, berdasar modal kebebasan pers, saya sangat senang untuk mengetahui sesuatu dari media massa dan mempercayai sesuatu yang tertulis di sana; hal-hal tersebut secara tidak sadar membentuk opini saya tentang sesuatu.
2. Lingkungan
    Tentu saja, keluarga dan teman-teman. Saya ingat saat SD saya melihat gebetan saya (jaman SD? tobat sana ros. sinau.) memakai sepatu merk X (sepatu lagi sepatu lagiiii cape deh ros kamu emang maniak sepatu - dan jaket -.-' -.-' -.-') dan sayapunnnn pengen make sepatu merk ituuu >.<>
3. Lambang
    Wah, kalo buat saya ini superrrr dupeeerrrrr krusial. Saya pecinta lambang soalnya, terutama yang terlihat simpel dan lucu. Menarik. Contoh: Kelme dan Puma. Miauuuuuw.... 
4. Iklan
    Perhatikan, iklan tidak termasuk media massa lo yaaa... Saya orangnya tidak mudah termakan iklan, karena saya tahu dalam setiap iklan para produsen selaluuu menonjolkan yang baik-baiknya aja. ^^

Saya lumayan sadar citra. Saya juga mempunyai kemungkinan membeli merk, bukan fungsi ataupun keawetan suatu barang (seperti yang sudah kita tahu, kawan, ada uang ada kualitas). Saya benar-benar MAKAN SEPATU. Sepatu merk apapun tidak akan bertahan lama bila saya yg memakai, tapi entahhh kenapaaa sampai detik ini saya masiiiih aja make' sepatu bermerek. ga terhitung tuh sepatu dengan harga di atas seratus ribu yang saya rusakkan.

Sekalian curcol, saya punya jaket buanyak buanget..... Ya ga banyak2 amat sih, tapi kalo diliat dari jaket apa aja yg saya pake tiap hari, jaket2 itu kebanyakan -.-'

Sebagai bonus, ada list brand yang rosa pake :)) baek yg terkenal sampe yg 'apaan tuhhh'.

Jaket
Hard Rock
Hush Puppies
Nevada
Oakley
(kalo jaket saya kebanyakan punyanya jaket-komunitas dan ga bermerk. padmanaba, STEI, ITB, warrnambool, dan laen laeeeen)

Pakaian (atasan-bawahan)
Corniche
Cotton Club
Dust
Forex
Giordano
H&R
Hard Rock
Harley
Lea
Levi's
Polo
Reebok
Simplicity
Tira
Triset

Sepatu dan Sandal
Airwalk
Aero
Diadora
Gosh
Kelme
Laviola
Nevada
Otha
Puma
Reebok (ini yg plg banyak)
Triset

Tas-Koper
Billabong
Bodypack
Exsport
H&R
Iwak Bandeng
Polo
President
Ripcurl
Roxy
Three Ray

Lain-lain
Billabong (topi)
DKNY (jam tangan)
Hush Puppies (ikat pinggang)
Nike (jam tangan)
Roxy (dompet)

Saya percaya, jika saya mau mengalahkan kantuk dan berjalan ke lemari saya, masih banyak merk yang mununggu untuk ditulis. :)

Labels: